Tentang Amanah (1): Perbekalan Kami :)

Ini nasehat singkat dari seorang teteh di bulan April 2011. Nasehat yang sengaja beliau sampaikan untuk membekali kami (adik-adik binaannya) menghadapi bulan-bulan berikutnya. Bulan-bulan di mana kami banyak diuji tentang hal yang satu ini. Tentang ‘Amanah’. Semoga bermanfaat juga untuk teman2 yang sedang mengalami ujian tentang amanah, hehe. :)

“Amanah, menurut bahasa berasal dari kata ‘aman’, lawan dari kata takut. Amanah itu kebalikan dari khianat. Adapun secara istilah, amanah adalah perilaku yang tetap dalam jiwa, yang dapat menjaga diri dari perihal yang bukan haknya, walau terdapat kesempatan untuk melakukannya tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain, dan menunaikan kewajibannya kepada orang lain, walau terdapat kesempatan untuk tidak menunaikannya tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain. Perilaku yang tetap bermakna karakter atau akhlak. Jadi, amanah adalah karakter bagi seorang yang beriman, kalau seseorang tidak amanah, maka karakternya sebagai seorang yang beriman dipertanyakan.

Keutamaan dari karakter amanah adalah:

  1. Merupakan jalan yang utama
  2. Merupakan sifat nabi, rasul, dan malaikat
  3. Merupakan tanda orang-orang yang beriman
  4. Lebih baik dari dunia dan seisinya
  5. Sifat/ciri-ciri dari seorang pemimpin

Amanah itu berkaitan erat dengan keimanan. Amanah adalah ujian keimanan. “Saya beriman”, “Saya percaya saya bisa melakukannya”. Yang perlu kita yakini adalah Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya (Qs 2:286).

Ketika datang suatu amanah yang kita rasa berada di atas kemampuan kita, kita punya dua pilihan,

1. menerimanya dan membuktikan janji-Nya  bahwa Allah akan meningkatkan kapasitas kita sehingga kita mampu memikul amanah itu, atau

2. menolak amanah itu karena berada di atas kemampuan kita dan bertahan dengan kepasitas diri yang sudah ada.

Pilihan pertama tentu jauh lebih baik karena akan membuat kapasitas diri kita terus menerus bertambah baik.

Maka, ketika datang suatu amanah yang baik, dari seseorang yang baik, yang kita kenal baik kapasitasnya, atau yang sudah pernah memegang amanah itu sebelumnya, sementara kita tahu kita masih mampu mengupayakannya, terimalah. Masalah hasil, kita serahkan kepada Allah, yang penting kita berupaya maksimal dalam memikulnya.

Seorang ulama berkata, “Orang yang menolak amanah, padahal dia dapat mengupayakannya, maka dia akan berada dalam kesedihan (berada dalam satu titik penyesalan)”.

Tanamkan dalam diri kita, bahwa kesempatan baik tidak datang dua kali. Dan salah satu tanda orang yang dicintai Allah adalah orang-orang yang dijaga dengan amanah, dengan proyek-proyek kebaikan.

Lantas, bagaimana kalau kita mengalami kelebihan amanah? Jika setelah dijalani dan diupayakan dengan maksimal, tetap ada amanah yang tidak mampu kita tunaikan. Kuncinya adalah komunikasi, segala sesuatunya harus tetap dikomunikasikan dan dimusyawarahkan bersama orang-orang yang terkait dengan amanah tersebut. Yang jelas, jangan sampai karena tidak mampu memegang suatu amanah, kita menghilang, meninggalkan begitu saja amanah tersebut tanpa kabar. Itu jatuhnya bisa jadi dzalim.”

Wallahu a’lam..

About these ads

2 gagasan untuk “Tentang Amanah (1): Perbekalan Kami :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: