NHW 9 : Bunda Sebagai Agen Perubahan

Setelah menemukan passion (ketertarikan minat ) kita ada di ranah mana, kita mulai melihat isu sosial di sekitar kita untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Sehingga kita bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.

Mulailah dari yg sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.

Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.

Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini:

Minat, Hobi, Ketertarikan :
Menghafal dan mempelajari Al Qur’an

Skill Hard, Soft:
Teknik menghafal Al Qur’an
Motivasi (keutamaan) menghafal Al Qur’an
Ilmu Bahasa Arab
Ilmu Tajwid
Ilmu Tafsir

Isu Sosial :
Banyak umat muslim dari berbagai kalangan usia, laki-laki dan perempuan yang kurang mengenal, memahami dan mengamalkan Al Qur’an yang merupakan petunjuk hidup seorang Muslim. Sebagian dari mereka sudah memiliki keinginan untuk mempelajari Al Qur’an (membaca, menghafal dan memahami) tetapi masih bingung harus memulai dari mana dan bagaimana..

Masyarakat:
Anak-anak, Dewasa, Lansia
Laki-laki, Perempuan
Keluarga, Teman, Tetangga

Ide Sosial:
Pondok Studi Al Qur’an (tajwid, tahfidz, tafsir) yang terbuka untuk berbagai kalangan, khususnya keluarga dan tetangga terdekat 🙂

Selamat menjadi agen perubahan

Karena

Everyone is a Changemaker

Insyaa Allah 🙂

Salam,
Rahmi K

Iklan

NHW 8 : Misi Hidup dan Produktivitas

Setelah belajar menemukan misi hidup untuk menggali produktivitas keluarga, di NHW kali ini, kita akan berlatih menerapkan misi hidup kita secara teknis 🙂
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
Mempelajari dan menghafalkan Al Qur’an
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE  DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Saya ingin menjadi ahlul qur’an yang berkontribusi mencetak generasi qur’ani
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

– Saya ingin menyelesaikan hafalan Al Qur’an, mempelajari kandungannya, berusaha senantiasa menghafalkan dan mengajarkannya. 

– Saya ingin mengajak orang-orang di sekitar saya untuk merasakan betapa nikmatnya berinteraksi dengan Al Qur’an dan hidup dalam naungan Al Qur’an.
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

– Saya (bersama suami kelak) ingin memiliki pondok studi Al Qur’an yang lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal kami, di mana terdapat ruangan-ruangan yang kondusif untuk belajar membaca Al Qur’an, mempelajari kandungannya, dan mabit (bermalam) untuk menghafalkan Al Qur’an..
c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

– menjadi Ahlul Qur’an

– melahirkan anak-anak yang mencintai Al Qur’an dan mencetak generasi Qur’ani
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

– Menyelesaikan hafalan Al Qur’an 30 juz dan terus melakukan muroja’ah

– Mempelajari Bahasa Arab agar lebih mudah memahami kandungan Al Qur’an

– Terus mempelajari dan mengajarkan tajwid Al Qur’an, serta mendampingi orang-orang di sekitat yang ingin menghafalkan Al Qur’an

– Merintis pondok studi Al Qur’an, diawali dengan menyusun program belajar tajwid, bahasa Arab, tafsir, dan menghafal Al Qur’an untuk orang-orang terdekat
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

Sepanjang tahun 2017 ini saya ingin menambah hafalan beberapa juz Al Qur’an, mempelajari bahasa Arab (nahwu, sharaf, i’rab) dengan guru offline, dan terus mengajarkan Al Qur’an..
BISMILLAH, BERUBAH BERUBAH BERUBAH!
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam (Calon) Ibu Profesional Pencetak Generasi Qur’ani, insyaa Allah 🙂

Rahmi Khoerunisa

Review NHW 5 : Belajar Cara Belajar

Review Nice Homework sesi #5

📝 BELAJAR CARA BELAJAR  📝( Learning  how to Learn)

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah
a. Bingung, ini maksudnya apa?
b. Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
c. Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
d. Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap belajar cara belajar.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah

Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh

Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu OUTSIDE IN informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan  exit procedure andaikata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yangbertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

🍀Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.

🍀Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.

🍀Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
a. Memberikan teori tentang desain pembelajaran
b. Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
c. Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
d. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya

ADAB itu sebelum ILMU

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong

Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu,  merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada  yang berpendidikan tinggi, namun  tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`

tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.

3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa

( stay foolish, stay hungry)

Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan :

Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Belajar cara Belajar, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Adab Menuntut Ilmu, 2017

Review NHW 6 : Belajar Menjadi Manajer Keluarga

Review NHW #6

🙋 BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA 🙋

Bunda, terima kasih sudah membuat beberapa kategori  tentang 3 hal aktivitas yang anda anggap penting dan tidak penting dalam hidup anda.

Dalam menjalankan peran sebagai manejer keluarga, *_manajemen waktu_* menjadi hal yang paling krusial.

Karena waktu bisa berperan ganda, memperkuat jam terbang kita, atau justru sebaliknya merampasnya. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Masih ingat istilah *_DEEP WORK_* dan *_SHALLOW WORK_*?

Dulu kita pernah membahas hal ini di awal-awal kelas. Tahapan-tahapan yang kita kerjakan kali ini adalah dalam rangka melihat lebih jelas bagaimana caranya shallow work kita ubah menjadi Deep Work.

Kita akan paham mana saja aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita.

1⃣. *Refleksikan aktivitas dan kemampuan manajemen waktu kita selama ini*

Menurut Covey, Merrill and Merrill (1994) cara yang paling baik dalam menentukan kegiatan prioritas adalah dengan membagi kegiatan kita menjadi penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak dan tidak penting-tidak mendesak .Menurutnya, segala hal yang kita kerjakan dapat digolongkan kedalam salah satu dari empat kuadran tersebut.

Agar lebih jelas , silakan teman-teman belajar memasukkan aktivitas-aktivitas yang selama ini kita lakukan dalam kategori kuadaran di bawah ini.

2⃣ *Setelah aktivitas terpetakan, fokuslah pada hal-hal yang penting (baik mendesak atau tak mendesak) karena pada kegiatan yang penting inilah seharusnya kita mengalokasi paling banyak waktu yang kita miliki*

3⃣ *Rencanakan dengan baik semua aktivitas yang anda anggap penting*

Kita akan kehabisan waktu, tenaga dan sering gelisah  jika kita sering melakukan kegiatan yang sifatnya penting dan mendesak.

Contoh : Mengumpulkan NHW matrikulasi itu anda masukkan kategori aktivitas Penting, karena kalau tidak mengumpulkan kita akan mendapatkan peluang tidak lulus.

Sudah ada deadline yang diberikan oleh fasilitator. Andaikata kita memasukkannya ke kuadran 2, artinya kita akan masukkan NHW dalam perencanaan mingguan kita,  membuat hati lebih tenang.  Tetapi kalau tidak kita rencanakan, NHW itu akan masuk ke aktivitas kuadran 1, dimana penting bertemu dengan genting (mendesak) paling sering membuat kita gelisah di saat detik-detik terakhir deadline pengumpulan.

Kalau ini berlangsung terus menerus, maka kita akan cepat capek dan stress yang berlebihan karena terlalu sering dibombardir oleh masalah dan krisis yang datang bertubi-tubi. Jika ini terjadi, secara naluriah, kita akan lari ke kuadran 4. yang sering kali tidak memberikan manfaat bagi kita.

Idealnya, semakin banyak waktu yang kita luangkan di kuadran 2, secara otomatis akan mengurangi waktu kita di kuadran 1 dan 3, apalagi kuadran 4, karena dengan perencanaan dan persiapan yang matang, banyak masalah dan krisis yang akan timbul dikemudian hari dapat dihindari.

4⃣ *Membuat kandang waktu ( time blocking) untuk setiap aktivitas yang harus anda kerjakan*

Membuat agenda mingguan dan harian dengan mengaplikasikan teori *_time blocking_*dan *_cut off time_*KIta bisa membagi secara rinci aktivitas harian  dalam hitungan jam atau menit agar waktu tidak terbuang sia-sia

5⃣ *Unduh Aplikasi atau buku catatan untuk membantu kita mengorganized semua jadwal kita*

Saat ini ada banyak aplikasi organizer yang bisa membantu dan mengingatkan kita setiap saat.

Sampai disini mungkin ada diantara kita yang bertipe “unorganized” ( menyukai ketidakteraturan, termasuk waktu )

Sehingga muncul pertanyaan,

“Mengapa sih harus repot-repot dan sangat detail dengan manajemen waktu?”

Kalau menurut teori Cal Newport,
Semakin detail manajemen waktu anda, semakin bagus pula kualitasnya.

Semakin bagus kontrolnya, semakin bagus pula efeknya.

Sekarang tinggal dipilih anda mau tipe yang organized shg menggunakan *_TIME BASED ORGANIZATION_* atau tipe yang unorganized dan menggunakan *_RESULT BASED ORGANIZATION_*

Kalau time based artinya kita akan patuh dengan jadwal waktu yang sudah kita tulis. Dan komitmen menerima segala konsekuensi apabila melanggarnya.

Apabila RESULT BASED ORGANIZATION anda perlu membuat pengelompokan kegiatan saja. Boleh dikerjakan kapanpun, selama Komitmen terhadap target/hasil yang sudah dicanangkan, bisa terpenuhi dengan baik.

Apapun tipe anda dan keluarga KOMITMEN tetap nomor satu.

Di Ibu Profesional,  manajemen waktu ini wajib dikuasai dan diamalkan  oleh para ibu sebelum masuk ke tahap bunda produktif.

Kita perlu menekankan pentingnya membuat rencana kerja untuk setiap minggu dan setiap hari, dengan memprioritaskan aktifitas yang penting.

Dengan demikian diharapkan kita dapat menjadi lebih produktif tanpa lelah dan stress yang berlebihan.

*_Demi masa,semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu_*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber Bacaan_ :

_Materi Matrikulasi IIP batch #3 sesi #6, Ibu Manajer Keluarga handal, 2017_

_Hasil NHW#6, Peserta Matrikulasi IIP, 2017_

_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_

_Steven Covey, the seven habits, Jakarta, 1994_

Materi MIP 6 : Ibu Manajer Keluarga Handal

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6

IBU MANAJER KELUARGA HANDAL
Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

*_kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita_*

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?

🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.

🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses

🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.

*Ibu Manajer Keluarga*

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

*_Saya Manager Keluarga_*

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi

🍀Buatlah skala prioritas

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

*Menangani Kompleksitas Tantangan*

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

*_b.ONE BITE AT A TIME_*

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

*_c. DELEGATING_*

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

*_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_*

_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

*Perkembangan Peran*

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

*_SEKEDAR MENJADI IBU_*

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.

🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupav untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

*BERUBAH atau KALAH*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

_SUMBER BACAAN_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015_

_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #3, 2017_

_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_

Materi MIP 5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Materi Matrikulasi IIP Batch #3 Sesi #5

📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal : 

1⃣Belajar hal berbeda        
2⃣ Cara belajar yang berbeda

3⃣Semangat Belajar yang berbeda

🍀 *Belajar Hal Berbeda*

Apa saja yang perlu di pelajari ?

yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

*Cara Belajar Berbeda*

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

_Apa itu berpikir skeptik ?_

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

*Semangat Belajar Yang berbeda*

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,

*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?

• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan 

*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*

Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.

Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*

yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :

1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati

2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya

3⃣Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

  *_Good is not enough anymore we have to be different_*

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :

👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.

kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah :

1⃣ _Observation_ ( pengamatan)

2⃣ _engage_(terlibat)

3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :

1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,

Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya

3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari

4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :

_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_

_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

1⃣ Teh Ziyana
1. Belajar bagaimana caranya belajar. Bukankah kita tdk boleh mem _block_ anak akan semua ilmu?? Ada yg disukai dan dianggap mudah ada jg yg sulit, klo dgn cara mendorongnya padahal yg disuka dan tdk dipaksa akan hal yg tdk disuka bukannya berdampak semakin jauh dan smakin sulit ia mempelajari yg sulit?? Mhn pencerahannya..

2. Maksud dr meninggikan gunung, jika anak suka akan suatu hal dan itu buruk menurut kita dr segi pemikiran di masa depan. Bagaimana berdamai dgnnya??

2⃣ Dear teh Zi, pada masa kanak-kanak mereka pasti mempunyai rasa ingin tau yg tinggi. pada perjalanannya, mereka akan menemukan hal yang paling mereka sukai. karena tiap orang diciptakan untuk misi tertentu.

kalau melihat perjalanan siroh, kenapa umar bin khattab tdk pernah menjadi panglima perang, kenapa yg menjadi duta islam pertama adl mushab bin umair, dst.

karena Rasul sebagai pendidik tau karakter dan kelebihan masing-masing. Khalid bin walid ahli strategi perang, tapi tidak banyak hafalan qurannya. dan Rasul tidak menyuruh Khalid untuk menghafal.

Karena di masa depan akan bnyak pekerjaan yang mungkin belum ada di masa sekarang. dan orang bisa bertahan hiup walau hanya menguasai 1 keahlian walau keliatannya juga sepele. sehingga pelajaran lain, asal cukup saja.itu tdk apa-apa, karena kita sedng meninggikan gunung.

kecuali untuk hal yang bersifat lifeskill dan kemandirian mungkin ya teh Zi. mau ga mau anak diarahkan untuk mau mempelajarinya, krn bekal hidup nereka kelak.

2. kalau dari ibu septi begini, coba cari dulu orang dengan keahlian seperti itu tapi bisa meningkatkan keimanan. jangan buru-buru dipangkas.

masa depan adalah milik industri kreatif. mungkin hal yg menurut kita tdk baik, bisa ada celah keaikan asalkan bisa kreatif dalam menempatkan diri sesuai dengan nilai yg kita pegang.✅

2⃣ Teh Prita Annisa Utami
Berarti teh, selama ini ortu yang mengiming2i hadiah kalau nilai matematikanya 9 misalnya, salah ya? (Hanya iming2, tanpa memaksa, nanti dia yg cari sendiri caranya) Padahal anak tersebut nggak suka matematika, tapi jadi termotivasi krn hadiahnya. Berarti dia hanya bisa, dan nggak suka ya? Jadi apakah itu juga termasuk merusak fitrah teh?

2⃣ Dear teh Prita, kalau anak tidak menyukai mata pelajaran tertentu, coba pelajari dulu gaya belajarnya, atau gali ada masalah kah, baik dari guru, teman, dll . untuk iming2, kita harus membedakan mana hadiah, imbalan karena kesepakatan, mana sogokan/suap. kalau anak terbiasa di suap, internal motivation tidak terbentuk. dia cuma mau belajar apabila ada imbalan. sedangkan fitrah belajar muncul dari lubuk hati yang ga disuruh pun pasti dikerjakan. ✅

3⃣ Teh Nurita
Saya memiliki pengalaman yg kurang baik ketika mempelajari satu mata pelajaran saat di bangku sekolah dulu, akibatnya hingga kini saya tidak menguasainya, padahal menurut saya matpel ini penting untuk dikuasai.
Bagaimana caranya agar saya bisa belajar menyukai kembali, karena saya khawatir kelemahan saya ini akan menjadi penghambat saat kelak harus mendampingi anak-anak belajar.

3⃣ Dear teh nurita, di materi matrikulasi selanjutnya kita akan diarahkan untuk mempelajari ranah yang kita BISA dan SUKA terlebih dahulu. karena akan membuang banyak waktu. Kalau dari pengalaman, pada akhirnya saya menikmati learning by doing. Saya paling ga bisa Geografi, tapi saat anak saya berbinar pingin tau tentang Geo, mau ga mau saya jadi belajar dan dorongannya kuat sekali. Tapi kalau teteh masih banyak waktu luang, mencoba memulai belajar kembali, silakan akan baik sekali ✅

4⃣ Teh Witri
1. Dalam melatih anak dalam keterampilan bertanya,
a) apakah itu dijadikan sebuah urutan Mulai dari how dst…
b. Pertanyaan yg manakah yg sering ibu septi lakukan jika beliau sedang mulai melatih keterampilan bertanya anak-anaknya.

2. Mengenai belajar mengenalkan seks pada usia dini (kebetulan anak saya berusia 2y, dan saya harus bersiap jika sewaktu2 dia bertanya) bagaimana cara mengenalkan alat vital pada dirinya sendiri dalam panduan islam. Karena ada perbedaan pendapat, untuk mengenalkan alat vital pada usia dini dalam bahasa ilmiah dan bahasa sehari-hari (daerah).⁠⁠⁠⁠

4⃣ Dear Teh Witri,
1. Ga harus berurutan, selama 5w+1h bisa terjawab. tapi di materi ibu membantu memudahkan dengan jemari, what, when, dst. Biasanya ibu menjetikkan jari saat anaknya bertanya.

misal: tentang kue kesukaan anak saya:

what, who, where, when, why how?
misal: itu apa? what: pancake,
who: siapa yang membuat?
where: dimana dibuatnya?
when: kapan membuatnya?
why: kenapa membuat pancake? kenapa bentuknya seperti itu? how: gimana cara bikinnya?apa bahannya?

dari games ini maka bisa mengembangkan rasa ingin tahunya menjadi: mengapa tidak…bagaimana jika…: mengapa pancakenya tidak diberi kunyit dan tidak dipanggang, bagaimana jika bentuknya segitiga.

dan dari rasa penasaran ini kelak memunculkan imaginative creation, art of discovery dan nobble attitude. sehingga kami membantu mewujudkan kreasinya dan membolehkan menambahkan kunyit ke pancake ataupun masukin sabun, batu dan tanah ke percobaan volcano kami.

5⃣ Teh Endita
Bagaimana contoh2 spesifik dari masing2 peran orang tua (sebagai pemandu, teman bermain, sahabat) di tiap perkembangan anak?

5⃣ Dear teh Endita,
ortu sebagai pemandu: artinya memfasilitasi rasa ingin tahu anak dn eksplorasinya. conthnya beberapa saya jawab dipertanyaan bawah.

pernah anak saya penasaran banget sama lampu mobil polisi, saya ajak ke kantor polisi, saya minta izin ke bapak polisi untuk pegang lampu mobilnya.

ortu sebagai teman bermain. usia 9-16 biasanya anak mulai suka mncoba hal baru, kita harus bisa masuk disini  karena kalo ga,dia bakal milih deket sama temen-temennya.

misal, penasaran nonton bioskop, kita yg ngajakin dn nemenin juga. pingin main game yg lg hits, kita masuk juga, dsb.

ortu sebagai sahabat: kira-kira gimana kita memperlakukan sahabat. kalo curhat di nasehati atau di dengerin aja? kalo ke sahabat  kita super kepo atau percaya? ✅

6⃣ Teh Intan Fajar
Tanya teh..
Bagaimana cara nya menguatkan iman anak dibawah usia 0-8 tahun?
Seingat saya, anak-anak di rentang usia ini masih berpikir konkrit, berwujud.
Saya sering kewalahan menjawab pertanyaan dari anak mengenai hal-hal yang berkaitan dengan iman ini. Saya berusaha menjelaskan yang saya tau. Kadang jadi speechless 😐

6⃣ Dear teh intan, menguatkan iman di usia ini yang saya pahami adalah dengan membangun imaji positif tentang Allah, Rasul, Islam dan seterusnya. caranya bisa  lewat keteladanan, sikap ortu dan kisah inspiratif.

imajinasi anak sungguh luar biasa, jangan takut anak tdk paham krn konsep konkrit-abstrak.

kalo saya perbanyak doa juga teh, krn pemahaman anak diluar kuasa saya, cuma Allah yang bisa menanamkan pemahaman yg baik dan utuh.✅

7⃣ teh Andam
Anak sulung saya adalah anak yang aktif bertanya usianya 6th, Namun si sulung selalu bertanya dengan bertubi tubi sampai dia puas dengan jawaban saya, terkadang saya cukup direpotkan untuk menjawab pertanyaan, memang menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk mampu menjawab, terkadang juga saya sulit menangkap pertanyaan apakah yang dimaksud karena si anak pun masih terbatas dalam mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. 
1. Pertanyaannya bagaimana kita sebagai orang tua mengolah potensi tersebut agar dapat menjadi asset bagi kehidupannya kelak?
2. Bagaimana caranya agar terjadi komunikasi yang berkesinambungan agar poin2 pada cara mengolah kemampuan berpikir anak khususnya poin 2 dan 3 dapat diterapkan?

7⃣ 1. bisa lihat jawaban 4 ya teh. setiap pertanyaan anak diarahkan 5w+1h–> nanti anak terbiasa berpikir kritis, mengapa tidak,bagaimana jika–> art of discovery.

kalau kita belum tau jawabannya: nanti kita cari tau bersama ya.

kalau kita belum sempat mejawab: minta anak catat/gambar ttg pertanyaannya di buku khusus. *Buku rasa ingin tahuku* supaya pas senggang bisa kita baca dan cari tau jwbannya.

2. cara belajar berbeda, semangat belajar berbeda,memang sulit diajarkan/komunikasikan ke anak, tapi bisa *ditularkan*

_for the things to change i must change first_

8⃣ Teh Nenih Nuraenih
1. Mohon di uraikan lebih dalam tentang peran orang tua sebagai pemandu untuk anak usia 0-8 tahun,
2. Saya punya 2 anak usia 4,7 thn dan 7 bln, sya merasa blm menemukan irama bermain bagi s kaka, anak pertama laki laki dia aktif dan suka main diluar (main tanah/pasir, lari, hujan2an dn segudang aktifitas fisik) setelah s adik lahir,bermain d luarnya jd terbatas karena s adik mash bayi dan s kaka selalu ingin d temani saya, pernah suatu sore sya ajak s kaka main sambil gendong adik, tp karna gerak saya terbatas karna gendong adik, s kaka malah kecemplung ke selokan,  dan akhir2 ini jd pemarah dan rewel, bagaimana saya menyalurkan aktifitas fisik s kaka tanpa meninggalkan adik.

8⃣ orang tua sebagai pemandu artinya memfasilitasi kebutuhan anak untuk eksplor _follow the child_seperti ada masanya anak senang naik tangga, ya jagain bukan dilarang. ada masanya anak seneng main air, ya boleh juga dngan batasan.

2. kakak rewel biasanya cari perhatian. ketika memiliki lebih dari satu anak, pasti ada sibling rival.

kalo saya menyiasatinya, ada satu wktu yang khusus main dgn masing-masing anak tnpa saudaranya. bahkan pergi berdua, walau cuma jalan pagi.

adiknya titip ke ayahnya dulu.

ketika kakak “usil” jangan langsung melabeli kakak jahat ke adik, dsb.

beri peran pada kakak dlam mengasuh adik, misal mengambilkan popok/baju. beri pujian, wah kakak hebat si penyayang adik,dll.

9⃣ Teh Lisna
Dalam materi belajar caranya belajar, kita juga dituntut untuk selalu melihat potensi anak dalam belajar. jika kemampuannya sudah terlihat maka terus kita arahkan pada apa yang anak sukai. Lalu bagaimana sikap kita terhadap cara pembelajaran di indonesia yang justru malah menekankan anak harus menguasai seluruh mata pelajaran. Apakah dengan homeschooling tindakan yang tepat ?bagaimana cara memulainya ?terimakasih

9⃣ Dear Teh Lisna, saya ambil jawaban dari review kemarin yg ditulis teh ismi ya..

_Tambahan jawaban dari Ibu Septi_

Pendidikan yang terbaik adalah yang paling cocok dengan karakter anak kita. Saya tidak pernah memaksakan anak-anak dengan pilihan pendidikan yang terbaik menurut kami berdua. Tetapi kami memberikan pilihan ke anak-anak, dengan cara memilih beberapa sekolah formal yang cocok dengan VALUES keluarga kami, dan memberikan pilihan ke anak-anak

mau sekolah A, sekolah B, sekolah C atau Homeschooling bersama bapak ibu. Jadi apapun pilihan anak-anak akan kita terima, dan nak-anak beajar untuk menerima segala konsekuensinya pilihannya.

Yang penting kuatkan Home Based Education keluarga kita , Schooling dan HS itu hanya kendaraan yang bisa dipilih✅

🔟 Teh Lely 🙋🏼
1. Anak saya sekarang berusia 4,5 y, dia sangat menonjol dibidang partical life, cooking n drawing. Untuk tahapan belajar diusia tersebut. Apakah 3 hal tersebut terus distimulus dan lainnya pengenalan saja atau semua kegiatan (tour the talent ) kita kenalkan dengan porsi yang sama tanpa dibeda-bedakan sesuai yang disukai, mengingat umurnya masih balita.
2. Mohon penjelasan tentang bahasa dengan tangan dalam materi 5 ini.

1. Dear teh Lely, 0-7th tetap tour the talent, kenalkan saja beragam hal, nothing to loose anak suka/tdk, namanya juga mengenalkan..mungkin satu hari dia membutuhkan pengalaman tersebut dan akan  me- _recall_ memorinya.
dan tetap fasilitasi kesukaannya.

2. maksudnya bahasa tangan itu yang ibu jari how, dst ya?

sudah ada contohnya diatas ya teh. jari tangan membantu kita untuk senantiasa belajar berbeda. menggali banyak pertanyaan, agar anak terbiasa mnjawab rasa ingin tahu dan berpikir skeptik ✅

1⃣1⃣ Teh Dini
Bagaimana menyeimbangkan antara passion dan ilmu yang lain?
Misalnya, anak saya tampak sangat suka kegiatan motorik kasar (olahraga), tapi jadinya perkembangan di bidang bahasa (ngobrol) lebih lambat jika dibandingkan teman2 seusianya.. Apakah tidak2 apa2 sy terus mengasah passionnya, atau harus diseimbangkan (min. tidak tertinggal dgn teman2 lain seusianya) ?

1⃣1⃣ Dear teh
Dini, ini anaknya usia berapa?

2. pendidikan seks usia dini, dipelajari lebih lanjut di kuliah bunda sayang. kalau yang diajarkan ibu dan beberapa pendapat psikolog, kenalkan menggunakan bahasa ilmiah, boleh juga ditambahkan bahasa sehari-hari, tapi bukan bahasa yang ga nyambung, misal: burung. dalam panduan islam yang tersirat dalam hadist maupun quran saya belum tau teh. mungkin ada yag mau berbagi?✅

wah.. masih 2.5 th.. follow the child aja teh..
dan sering diajak ngobrol juga bacain cerita utk stimulasi bicaranya. tdk memberikan tayangan tv/video krn bisa membuat pasif bicara.

elan anak ibu septi baru bisa bicara di umur 3th.

usia 0-7 masih tahap eksplorasi, berikan ragam aktivitas utk anak. jangan membandingkan dgn anak kita dgn orang lain.

Review NHW 4 : Membuat Kurikulum yang Gue Banget

REVIEW NICE HOMEWORK #4

MEMBUAT KURIKULUM YANG “GUE BANGET”

Bunda, membaca satu demi satu nice homework #4  kali ini, membuat kami makin yakin bahwa akan makin banyak anak-anak Indonesia yang memiliki Ibu-Ibu tangguh, yang paham akan dirinya dan mampu *_Memberi Teladan_* kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah cara belajar di Universitas Kehidupan.

Tantangan dalam mengerjakan Nice Homework#4  ini bukan di urusan hasil pencapaian, tetapi justru di urusan *_kesungguhan_*bunda untuk menemukan diri.  Proses ini memang tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu. Maka efek berikutnya kita tidak bisa memandu anak-anak kita dalam menemukan peran hidupnya. Ketika merasa  tidak bisa dan tidak mau belajar efek berikutnya adalah kita *_sub kontrakkan_* pendidikan anak kita ke orang lain, yang belum tentu paham akan sisi keunikan anak kita. Inilah yang menjadi sumber awal munculnya penyakit *_kemandulan_* dalam mendidik anak-anak. Menggerus kekuatan fitrah kita dalam mendidik anak-anak sehingga menyatakan dirinya _tidak mampu lagi_

Untuk itu kami akan membantu bunda dan calon bunda semuanya menemukan misi hidup ini setahap demi setahap.

🍀Bagi anda yang belum menemukan “jurusan” ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka bersabarlah, tuliskan apa adanya di NHW#4 ini bahwa  anda memang belum ketemu sama sekali. Kemudian silakan lihat kembali ke belakang, faktor-faktor apa saja yang membuat anda sampai usia sekarang belum bisa menemukannya.

Tulislah dengan jujur, kemudian lihatlah kondisi sekarang, bagaimana anda mengenal diri anda?

Aktivitas apa saja yang membuat anda SUKA dan BISA, tulis semuanya.

Apa sisi kekuatan diri anda? Silakan tulis semuanya.

Pernyataan-pernyataan ini sudah SAH untuk menggugurkan NHW #4 anda.

Semoga dengan melihat hal ini, bunda semuanya menjadi lebih SABAR, ketika melihat anak-anak kita yang masih galau tidak paham arah hidupnya. Jangankan mereka, kita yang sudah puluhan tahun hidup saja ternyata juga belum paham. Bisa jadi anak-anak kita memang punya pengalaman yang sama dengan kita dulu dan sekarang kita didik mereka dengan pola yang sama dengan cara orangtua kita mendidik kita dulu.

Kembali ke fase titik nol dan segera bergerak.

” *_Jangan pernah berdiam di ruang rasa, sehingga titik nol membekukan hidup anda_* ”

🍀Bagi anda yang sudah menemukan “jurusan”ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka silakan ikuti simulasi secara setahap demi setahap di bawah ini :

1⃣Tulislah Jurusan Ilmu secara Global, misal : Pendidikan Anak dan Keluarga

2⃣Tentukan KM 0 nya mau anda tempuh mulai kapan? Atau apakah saat ini sudah dalam proses berjalan di tahap 1? Maka tulislah kapan anda memulai KM 0.

3⃣Kita ambil satu hasil penelitian _Malcolm Gladwell_dalam bukunya yang berjudul Outliers (2008) pernah mengemukakan sebuah teori yang menarik, 10.000 hours of practice. Menurutnya, jika seseorang melatih sebuah skill tertentu selama minimal 10.000 jam, maka hampir bisa dipastikan orang itu akan “jago” dalam bidang tersebut. *_They will master the skill_* kata Gladwell.

Darimana ia bisa yakin? Konon Gladwell mengembangkan teori ini dari hasil penelitian terhadap para pemain biola selama puluhan tahun. Dari penelitian itu, para pemain biola yang berlatih minimal 2 jam sehari selama 12 tahun (kurang lebih 10.000 jam) semuanya menjadi para maestro biola. Orang yang di pertengahan berlatih di antara 5.000 hingga 8.000 jam, sementara pemain biola yang gagal berlatih di bawah 3000 jam.

4⃣Silakan ukur kemampuan teman-teman, dalam sehari kira-kira sanggup menginvestasikan waktu nya berapa jam, untuk menekuni jurusan ilmu tersebut. Katakanlah kita ambil yang paling pendek hanya 2 jam per hari.

Mari kita berhitung :
10.000 jam : 2 jam = 5000 hari
Apabila setahun katakanlah hanya kita ambil 250 hari efektif saja, maka 

5000 hari : 250 = 20 tahun

Inilah periode waktu yang harus anda tempuh untuk bisa menjadi master di bidang anda.

5⃣Silakan bagi 20 tahun tersebut dalam KM perjalanan yang akan anda tempuh, misal 

KM 0 – KM 1 = Bunda Sayang ( 5 tahun)

KM 1 – KM 2 = Bunda Cekatan (5 tahun)

KM 3 – KM 4 = Bunda Produktif ( 5 tahun)

KM 4 – KM 5 = Bunda Shaleha ( 5 tahun)

Tidak ada patokan khusus dalam menentukan rentang waktu, silakan anda buat sendiri sesuai dengan kemmapuan kita.

6⃣Uraikan kira-kira mata pelajaran apa saja yang harus kita pelajari satu-satu di mata kuliah pokok Bunda Sayang, Bunda Cekatan dsb. 

7⃣Cari sumber belajarnya ada dimana saja dan KONSISTEN menjalankannya. 

*AKSELERASI*

Apabila ternyata dalam belajar di jurusan ini mata anda makin berbinar, semangat anda tak pernah pudar, bisa jadi yang harusnya hanya investasi 2 jam/hari secara alamiah akan menjadi lebih dari 2 jam. Maka pilihlah aktivitas harian, waktu yang paling banyak menghabiskan hari-hari anda, y aktivitas yang memperbanyak
*_JAM TERBANG_*

Kalau sudah seperti ini Allah sedang menghendaki anda untuk masuk program “AKSELERASI”

Ada dua cara akselerasi yaitu :

🍀Menambah Jam terbang harian

🍀Membeli Jam terbang
Bagaimana caranya membeli? Dengan mendatangi para ahli yang sesuai dengan bidang kita, belajar banyak dari beliau. Pelajari jatuh bangunnya seperti apa, sehingga kita bisa “jump starting” dengan tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli tersebut. Sejatinya dengan mengikuti program matrikulasi ini, anda sedang membeli jam terbang.

🍀Carilah mentor hidup anda yang bersedia memandu dengan konsisten agar anda mencapai sukses dengan lebih cepat lagi.

Dengan belajar bersungguh-sungguh di NHW #4 ini, teman-teman akan dengan mudah menyusun

*_customized curriculum_*

untuk anak-anak kita masing-masing.silakan mulai dari diri bunda dulu untuk bisa merasakannya. Karena kalau bundanya sudah bisa, maka kita  akan mendapatkan bonus kemampuan menyusun kurikulum bagi anak-anak kita. 

Kuncinya hanya dua 

*_FOKUS dan KONSISTEN _*

Jadilah yang terhebat di bidang Anda masing-masing. Jangan pernah menyerah.

*_If today is a bad day, tomorrow maybe worst, but the day after tomorrow is the best day in your life. You know what? Most people die tomorrow evening!_* – Jack Ma

Selamat menempuh 10.000 jam terbang anda

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan :

_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_

_Materi Matrikulasi IIP Sesi #4, Mendidik dengan v Fitrah, 2017_

_Hasil Nice Homework #4 para peserta matrikulasi IIP batch #3_

Materi MIP 4 : Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4  

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 

“ *Just DO It*”,
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_,  bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

 

Sumber bacaan :

_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_

_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_

_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_

Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2017

Ini jawaban abah Rama dari pertanyaan saya tentang misi dan visi:

Definisi yang benar dari Misi, adalah “alasan keberadaan” sehingga dengan demikian Misi datang lebih dahulu dan tentunya lebih penting.

Sekarang saya lebih suka menggunakan kata “Tugas” untuk menggantikan Misi dan “Cita-Cita” untuk menggantikan Visi karena dengan bahasa Tugas dan Cita-Cita, maka jelaslah bakwa Tugas lebih penting dibandingkan Cita-Cita, karena kalau seseorang berhasil mencapai Cita-Citanya akan tetapi gagal menjalankan Tugasnya maka dia disebut gagal sedangkan disisi lain kalau seseorang berhasil menjalankan Tugasnya akan tetapi tidak  berhasil mencapai Cita-Citanya , maka dia akan tetap disebut berhasil.

Ini jawaban pak Dodik tentang Visi dan Misi :

Visi adalah citra atau bayangan mengenai masa depan.  Manfaat visi adalah memotivasi, memandu tindakan, dan menyelaraskan tindakannya.

Misi adalah pernyataan yang menggambarkan bagaimana konstribusi kita pada kehidupan.

Misi menjawab mengapa kita ada, mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Misi menjelaskan manfaat kita pada orang lain dan masyarakat.

Jadi, visi adalah keadaan kita di masa depan, misi adalah konstribusi yang kita tawarkan saat ini. Misi yang kita lakukan secara konsisten akan mengarahkan terwujudnya visi kita.

Visi bicara tentang diri kita, misi bisa tentang manfaat kita. Visi bermanfaat buat diri kita. Misi bermanfaat bagi kita dan orang lain. Misi membuat orang lain bisa mengetahui manfaat yang bisa mereka peroleh dari diri kita.

Review NHW 3 : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Review Nice Home Work #3
Kelas Matrikulasi IIP batch#3

🏠 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

☘Kalau kamu ingin berbincang-bincang dg DIA, maka temuilah DIA dengan caramu, Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendakNya padamu, maka IQRA’, bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homework #3  ini adalah proses IQRA'( membaca).

☘Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda. Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru  sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.

☘Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, candle light dg hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan. Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.

☘Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono, aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

☘Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima. Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda. Setelah mengalirkan rasa, sekarang mulailah melihat dua kalimat yang sangat penting ini untuk memaknai apa makna sebuah MISI KEHIDUPAN : *”Dua hari yang paling penting dalam hidupmu adalah hari pada saat kamu dilahirkan dan hari di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu dilahirkan”*

☘Setiap dari kita memiliki misi spesifik hidup yang sangat penting digunakan dalam membangun peradaban. Langkah berikutnya adalah kita akan dipertemukan dengan partner hidup kita, anak-anak kita dimana mereka membawa misi hidupnya sendiri-sendiri, dan bersama kita dalam sebuah keluarga. Beberapa gabungan misi spesifik hidup setiap anggota keluarga tersebut akan bersinergi membentuk sebuah misi spesifik keluarga. Inilah yang akan menjadi amunisi kekuatan kita untuk mengarungi samudera di atas  bahtera rumah tangga, baik di saat ombak tenang, maupun saat badai menghadang. Maka ada satu kalimat lagi yang bisa lebih membantu kita untuk memaknai apa arti sebuah misi keluarga. “Dua fase yang paling penting dalam hidupmu adalah fase di saat kamu bertemu dengan jodohmu dan fase di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu berdua dipertemukan”

☘Dengan demikian makin paham kita  bahwa semua menginginkan ‘keberadaan’ kita dan keluarga kita, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. “Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.”

☘Semua keluarga berjalan menuju sebuah VISI HIDUP. Kesamaan visi hidup inilah yang membuat kita bisa bersama-sama dalam satu gerakan dengan saling menguatkan peran masing-masing sesuai dengan misi spesifik hidup dan keluarga masing-masing. Inilah VISI HIDUP kita semua dalam membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.

☘Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri.
Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu. Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa *BERSUNGGUH-SUNGGUH* nya kita dalam menjalankan MISI HIDUP kita

✊🏻Salam Ibu Profesional!

Sumber Bacaan :
-Materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2017

-Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP bathc#3, 2017 Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani

Materi MIIP 3 : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

KELAS MATRIKULASI BATCH 3
INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung

Resume Materi Sesi #3
PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Selasa, 7 Februari 2016

Fasilitator : Wiwik Wulansari, Ismi Fauziah
Ketua Kelas : Derini Handayani
Koord. Mingguan : Nurita Azizah Rachman

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
🙋 PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK
👨👩👧👧 NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?

🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan
Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
*“`RESUME TANYA-JAWAB SESIi#3“`*
Pertanyaan 1. Teh Afina
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Saya yakin dengan awal pernyataan itu, tapi bukankah kita juga harus berusaha melihat peluang? Karena ada juga ibu yang terlalu fokus dengan urusan ‘rumah’ sehingga menggantungkan segala sesuatu kepada suami. Saya juga yakin ibu yg punya segudang aktifitas ataupun mampu berpenghasilan, bisa melihat peluang di depan matanya.
Bagaimana pandangan teh Ismi dalam hal ini?
Jawaban:
Dear teh Afina, setelah mengalirkan rasa dan berpikir jernih, saya baru bisa menemukan jawaban versi saya.
Jadi kembalikan semua kepada niat, apa tugas utama kita di dunia, lalu jika ada peluang, untuk apa niat kita melakukannya. Lalu saya ingat cerita ibu waktu beliau juga nyambi ambil peluang berjualan, ternyata fokus membersamai tumbuh kembang anak, dan subhanallah sekarang bunda septi sedang menuai apa yang beliau tanam.
Lalu apa ketika kita ada peluang kita tidak boleh mengambilnya? Kembalikan lagi pada prinsip diri, keyakinan, dan niat. Jika kita yakin dan kita yakin kita akan bahagia silahkan ambil peluang itu.
Kembali lagi pada slogan bunda produktif..
Rezeki itu pasti, kemulian yang dicari
Be a profesional, and rezeki will follow ✅
Pertanyaan 2. Teh Hansa
Ini sebenernya pertanyaan saya dari dulu, buat apa saya lahir di keluarga ini. Bertemu banyak orang yang menjadikan kepribadian saya seperti ini. Dapat suami dengan kelebihan dan kekurangan seperti ini, diamanahi anak. Sayang nya masih belum nemu jawabannya karena bingung harus mulai dari mana.
Kira2 saya harus mulai dari mana ya untuk mencari jawabannya. Karena saya ngerasa disemua bidang biasa2, saya tidak merasa ada yang spesial didiri saya. Terimakasih.
Jawaban:
Dear teh Hansa, bagus banget sudah tau kelebihan dan kekurangan pasangan. Itu sudah step mengenali pasangan kita.
Mengenali diri bisa dicoba dengan hal ini :
* Aktivitas apa yang kita suka
* Aktivitas apa yang tidak kita suka
Fokus pada hal yang kita suka teh. Misal, saya tidak suka setrika, sekuat apapun saya mencoba, saya ga suka. Apa harus dipaksakan? tidak, saya fokus sama hal yang saya suka. Saya tidak pernah menyetrika, kecuali kepepet. Tetapi hal yang saya suka saya lakukan terus menerus.
Dari situ bisa terlihat apa kekurangan dan kelebihan kita ✅
Pertanyaan 3. Teh Hamidah
Saya kn baru menikah 4 bulan dan tdk mlalui proses pacaran, dmna sgala sesuatunya masih saling mengenali dan menyesuaikan..utk menggali rahasia/hikmah perjodohan dg suami jg rasanya masih dangkal dan butuh waktu,
Nah, kira-kira bagaimana memulai membangun peradaban dari rumah dg kondisi saya seperti ini ya?
Jawaban:
Dear teh Hamidah,
pertama teteh harus bersyukur karena menikah tanpa melalui proses pacaran 👍🏻
Untuk membangun peradaban, kita perlu saling mengenal teh, kenali pasangan kita perlahan. Temukan kelebihannya dan koneksikan dengan kelebihan kita. Ketika mulai menemukan kekurangan dan “koq dia gini ya” luruskan niat lagi karena Allah dan berusaha menerima “ternyata pasanganku begini”
Fokus pada kelebihan dan menerima kekurangan itu sangat enak. Mangga dicoba.✅
Pertanyaan 4. Teh Prita Annisa Utami
Bagaimana cara menjaga anak dari lingkungan yang kurang baik? Mengingat pengaruh lingkungan terhadap laku anak sangat besar. Karena ada masanya anak banyak berkegiatan diluar rumah dan orang tua tidak bisa memantaunya 24 jam. (Jadi baper 😐 hehe)
Jawaban:
Dear teh Prita, saya dan suami selalu berpegang teguh pada kata kata seorang ustazah “kita tidak bisa membendung informasi negatif dari luar, tetapi kita bisa menutup informasi negatif itu dengan informasi positif”
Jadi jangan pernah lelah membersamai anak-anak kita di rumah, karena basic pendidikan bukan diluar, bukan di sekolah, tetapi dari rumah✅
Pertanyaan 5. Teh Rizki Amalia
Mau bertanya,, tp kayanya harus cerita dulu..😂
Saya seorang tenaga kesehatan, bekerja di klinik yg dikelola bareng sama komunitas pembelajar juga.. karena saya satu2nya dokter disana, akhirnya diamanahi menjadi penanggung jawab. Sebagian besar waktu dan tenaga saya digunakan untuk mengupayakan klinik terus bertumbuh dan bermanfaat untuk masyarakat. Alhamdulillah suami sangat mendukung dan berada dalam satu komunitas yg sama. Kita sepakat bahwa ini adalah peran peradaban kami,, bukan hanya saya, karena realitanya, suami dan anak selalu saya boyong ke klinik (Alhamdulillah suami freelance dan fleksibel secara waktu). Proses mendidik anak pun tak terpisahkan dr kegiatan saya menjalankan amanah ini. Tp seringkali saya merasa ‘lalai’ dgn tanggung jawab saya sebagai seorang istri dan ibu. D satu sisi saya meyakini ini adalah peran peradaban kami, di sisi lain, suka terpuruk dgn perasaan ‘peran peradaban ibu adalah rumah, anak, dan keluarganya’. Pertanyaannya,,
1. apakah peran peradaban seorang ibu memang terbatas dalam rumah, anak, dan keluarga?
2. Saya sudah merenungi materi 2,, Bu Septi mengatakan kalo pijakan utamanya adalah bunda sayang dan bunda cekatan,, baru bunda produktif. Bagaimana jika peluang menjadi bunda produktif datang di saat kita belum ‘ajeg’ menjadi seorang bunda sayang dan bunda cekatan yg profesional? Apakah harus menunda peluang tersebut? Atau bagaimana mensiasatinya?
Jawaban:
Dear teh Rizki,
a. Menurut saya peradaban seorang wanita tidak terbatas pada itu. Tetapi ibu adalah madrasah pertama anak itu memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Sadarilah ketika kita mendidik anak, kita sedang membangun peradaban. Ketika pijakan sebagai ibu, istri, rumah dan keluarga kuat, insyaAllah seorang wanita mampu bermanfaat untuk masyarakat. Sudah banyak contoh realita hidup orang orang sukses berawal dari pendidikan rumah.
b. Karena sudah memilih di ranah publik. Maka saran saya teh rizki :
– niatkan karena ibadah
– dokter adalah pekerjaan mulia
– kuatkan pijakan bunda sayang & bunda cekatan
– ajak suami bersama memanfaatkan waktu membersamai anak
Kuatkan dan disiplinkan masalah manajemen waktu untuk bunda bunda yang memilih ranah publik, karena untuk anak bukan waktu sisa tetapi waktu optimal. ✅
Pertanyaan 6. Teh Witri Khotimah
1.Dalam tahapan pra nikah, bisakah kita menerapkannya saat kita sudah menikah? Terlambatkah? Apakah nanti jika diterapkan akan ada efek yg berbeda karena beda masanya?
2. Bagaimana kita menemukan keunikan positif dalam diri oleh kita sendiri? Karena saya merasa saya sendiri tidak punya kelebihan atau potensi yang menonjol dalam suatu hal dibandingkan teman yang lain.
Jawaban:
dear teh Witri,
a. Tahapan pra nikah, ada tahapan berdamai dengan masa lalu teh. Banyak orang yang missed masalah ini, termasuk saya. Jadi ada baiknya kita mengingat kembali hal hal positif saat masa lalu kita dalam keluarga, memafkan masa lalu, memang akan sangat sulit, tetapi harus kita coba. Bisa juga bersama dengan pasangan saling tukar pengalaman.
b. InsyaAllah ada teh, tapi teteh belum menemukannya. Coba cek jawaban no.3 ya. Bagaimana mengenali kelebihan dan kekurangan diri ✅
Pertanyaan 7. Teh (anonym)
1. Suami saya memiliki pengalaman yang kurang baik saat di didik oleh orang tuanya sejak kecil, (diperlihatkan banyak pertengkaran, dicurhati segala masalah oleh ibunya dan tidak pernah dicontohkan bagaimana menyelesaikan masalah) sampai saat ini suami masih berhubungan sangat baik dgn orang tuanya, namun saat muncul masalah dgn org tuanya seakan-akan “monster terpendam” pada diri suami saya keluar lagi. Saya sudah mencoba utk menyarankan setiap masalah coba diutarakan penyelesaiannya dgn org tua, tapi hal itu mustahil menurut suami saya. Yg saya akan tanyakan, apakah mungkin “monster yg terpendam” ini bisa jadi muncul dalam mendidik anak anaknya? Jika iya apa solusi yang dapat saya lakukan ?
2. Jika saya masih berpindah pindah rumah kontrakan, apakah berpengaruh terhadap cara mendidik anak dari sisi lingkungannya ?
Jawaban:
dear teteh sholehah,
a. Iya teh pasti pengaruh positif dan negatif pengasuhan kita secara tidak sadar akan mempengaruhi cara kita mengasuh anak. Tetapi kalau kita sudah mengenali “masa lalu” kita, maka ada baiknya kita keluarkan. Jika memungkinkan untuk berkomunikasi baik baik dengan orangtua kita lebih maksimal lagi, jika tidak bisa maka suami butuh “ruang” untuk mengeluarkan inner child. Solusi yang pasti jangan pernah lelah membersamai pasangan memaafkan masa lalunya teh.
b. Menurut saya tidak, rumah pindah pindah tidak masalah, asal kita harus mencari lingkungan yang baik, tetangga yang baik, ramah anak. Ingat kata ibu, it takes a village to raise a children ✅
Pertanyaan 8. Teh Andam
pertanyaan saya untuk materi 3
1. Bagaimana kiatnya agar suami tertarik dan mau berpartisipasi dalam pengasuhan anak?
2. Bagaimana menyamakan frame dan cara mendidik anak agar selaras karena tidak jarang berbeda cara pengasuhan terhadap anak?
Hatur nuhun teh
Jawaban:
dear teh Andam,
a. Perbanyaklah waktu dengan suami untuk membicara tentang parenting, meminta pendapatnya ttg masalah2 anak, menshare materi via japri, lalu lihat tanggapannya. Awal saya gabung iip, suami saya ga begitu tertarik, tetapi lama-lama mengakui 😄 lalu kita ambil prinsip yang sesuai dengan keluarga kita.
b. Nah ini teh butuh proses panjang, butuh perjuangan, tetapi komunikasi intinya. Banyak banyak ngobrol tentang anak kita dgn suami, bukan ngobrol yang lain. 😬 ✅
Pertanyaan 9. Teh Nafsa
Cara menyelesaikan ‘masalah’ masa lalu saat kita dididik oleh orang tua kita itu seperti apa ya? Apakah dengan kita ikhlas memaafkan atau dengan dikomunikasikan saat ini?
Jawaban:
dear teh Nafsa, saya juga belum pengalaman komunikasikan dengan orangtua masalah masa lalu pengasuhan. Soalnya saya pikir, saya tidak mampu berkata kata dengan baik dan lembut. Jadi saya pun masih jatuh bangun, pertama adalah keluarkan, keluarkan apa yang teteh rasakan. Ketika sudah keluarkan masa lalu negatif, ingat ingat lagi teh masa lalu positif yang akhirnya membuat kita bisa berdamai dan memaafkan. Dan ketika sudah tau salah pengasuhan, semoga bisa menjadi warning untuk kita dalam mendidik anak.
Kalau tidak salah, ini disebut Inner child ya, automatic pilot parenting. Bisa dicari referensinya di fb Mas Supri. Maaf belum paham banyak 🙏🏻 ✅
Pertanyaan 10. Teh Ziyana
Assalamualaikum teh, mau bertanya yaa..
Materi yg luar biasa menggugah membentuk peradaban dengan diawali membentuk karakter anak. Nah jika saya msh berada di posisi blm memiliki keturunan teh, kira2 kesempatan apa yang bs saya benahi untuk membuat peradaban??
Hatur nuhun teh..
Jawaban:
dear teh Ziyana, mungkin ini hal hal yang perlu disiapkan, siapa tau ketika sungguh2 maka Allah berikan keturunan di waktu yang tepat.
* Perbanyak ilmu mendidik anak, catat, kemudian arsipkan
* Perbanyak ilmu ttg kehamilan, persalinan, masalah2 ibu baru
* Perbanyak komunikasi dengan suami, lihat tanggapannya, lalu lihat misi apa yang diharapkan suami terhadap anak dan ibunya kelak.
Misal dulu suami bilang sebelum nikah, saya ingin anak-anak saya dipegang oleh istri saya sendiri. Eh ternyata benar, mungkin jadi doa, setelah melahirkan saya resign 😄
* Perbanyak ingat pengasuhan masa lalu, coba komunikasikan dengan pasangan, keluarkan, coba berdamai dan memaafkan. dicicil teh biar lega✅
Pertanyaan 11. Teh Rifadina
Bagaimana cara terbaik untuk menemukan “misi spesifik”? Apakah dengan trial and error cukup efektif?
Jazakillah, Teh 🙂
Jawaban:
dear teh Rifadina, saya juga tidak yakin apakah trial error efektif. Tetapi kita bisa belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. Misi spesifik akan terbentuk, jika masing2 kita (suami istri) memiliki visi misi ke depan yang sama. jangan sampai masih pakeukeuh keukeuh sama prinsipnya masing masing. Memperbaiki komunikasi dengan pasangan bisa jadi awal yang bagus untuk memulai, saya pun masih belajar teh :mrgreen:💪🏻 ✅
Pertanyaan 12. Teh Prita
sy dl didik dengan cara yang kurang bisa sy terima oleh ortu sy,, sy masih merasa sakit sampai skrng.. ada kah tips untuk mengilangkan rasa sakit kembali memaafkan ortu saya, dan kembali menghormati dengan tulus?..
sy pernah coba mengubah mindset sy dengan mengatakan bahwa yang terjadi dgn sy itu takdir..Allah punya tujuan agar sy lbh baik (krn saat itu sy masih kecil, secara fisik, mental sy belum mampu untuk melindungi diri sy bahkan untuk meminta pertolongan orang lain).
setelah diberi mindset seperti itu msh tetap terasa pengalamn dl,, (masih blm memaafkan)..
Jawaban:
dear teh Prita, ini memang susah dan butuh proses panjang. Tetapi paling tidak kita sudah mencoba menerima, terima dulu pengasuhan masa lalu kita.
Oh saya dulu dibeginikan, oh begini begitu…
Coba keluarkan teh, entah bagaimana nyamannya teteh. Ngobrol dengan suamikah, atau menulis di catatan terus sobek sobek ya teh karena aib. Lalu buka kembali foto foto bahagia kita di masa lalu, tidak mungkin kan semua negatif, pasti ada rasa itu, rasa positif, rasa bahagia. Alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan, mungkin kita akan bisa mencicil memaafkan masa lalu kita. Jangan lupa berdoa untuk orangtua kita teh, karena kita ingin semua berkumpul di surga.
Dan coba deh alirkan kebahagiaan masa lalu kita dengan anak anak, ga kerasa kita bisa memaafkan karena lihat respon anak anak kita.
Saya pernah, mencoba cerita kenangan positif saya ttg jalan jalan naik pesawat waktu kecil, ga kerasa lihat respon anak positif, eh saya jadi ingat orangtua, lalu ingat pasti orangtua kita berjuang banget demi mengajak jalan. Alirkan rasa teh😘✅
Pertanyaan 13. Teh Derini
Saya merupakan anak dari keluarga broken home, memang saya tidak pernah ikut2 menjadi nakal seperti pada umumnya, Alhamdulillah mungkin berkat doa ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya.
Belakangan saya Baru bisa memahami akibat perceraian orang tua saya, terbelit masalah ekonomi Dan komunikasi yang bermasalah. Ayah saya tidak bekerja, lebih menyukai memancing. Saat itu (akibat stress) ibu kerja menjahit. Komunikasi tidak berjalan mulus, hingga mereka memutuskan pisah rumah terlebih dahulu. Ibu ikut ke rumah nenek, Dan ayah ikut adiknya. Akhirnya komunikasi mereka semakin sulit, pihak ayah mengira mereka sudah bercerai, namun ibu hanya ingin mereka berdua mengoreksi diri masing2. Pada akhirnya ayah menikah lagi. Dan ibulah yang merasa tersakiti.
Saat ini kondisi keluarga saya agak mirip, dalam kondisi suami tidak bekerja Dan komunikasi kurang lancar. Saya sering baper mengingat-ingat Masa lalu orang tua saya, “teladan” seorang Istri tidak saya dapatkan Saat perceraian itu ketika saya Masih berusaha 8tahun belum mengerti apa2 soal masalah orang tua.
Saya memiliki keinginan untuk merubah sejarah agar tidak terulang kembali.
Apakah dalam diri belum memaafkan ayah?karena Tidak mendapatkan sosok ayah selama ini?(cukup rumit jika diceritakan bisa panjang lebar 😄 )
Teh Ismi, bagaimana agar kita bisa merasa bangga pada suami dalam kondisi seperti ini?
Jawaban:
dear teh derini, wallahu alam teh. Mungkin iya teteh belum bisa memaafkan. Karena merasa sudah merasa tersakiti, jadi belum bisa berdamai dengan masa lalu. Lagi lagi alirkan rasa negatif dan positif secara bersamaan teh derin… karena hal positif bisa membendung hal negatif. Memaafkan masa lalu memang susah… tapi kita harus coba. Tengok kembali ibu yang sudah berjuang, jadikan masalah sebagai pembelajaran.
Mengenai suami, kadang kadang pria tidak suka dinasehati, karena jiwanya pemimpin. Mungkin kita bisa memperbaiki komunikasi tentang apa yang diinginkan suami. Lalu sampaikan secara baik tentang fitrah pencari rezeki. Mungkin ada sesuatu yang belum tersalurkan dari pasangan teh, sehingga belum bisa menemukan pekerjaan yang cocok.
Bismillah, harus tetap bangga teh, kalau tidak bangga, bagaimana suami bisa percaya diri. 😘
Sampaikan kenangan positif beliau yang kita suka, yang membuat kita bahagia.✅
Pertanyaan 14. Teh Yola Widya
Terkait dengan keluarga sebagai pondasi peradaban dan saya yakini pola pendidikan anak yang tepat termasuk kedalam poin penting dalam membangun pondasi tersebut. Setelah memahami pola pendidikan yang tepat utk anak dan setelah paham kurikulum yg tepat untuk anak, saya terganjal dengan kurikulum sekarang yg padat materi dan jelas tidak cocok utk anak saya yg cenderung lebih paham materi praktek dan olah tubuh.yg menjadi pertanyaan..
1.Apa yg harus dilakukan ketika ternyata anak cenderung lebih fokus pada kegiatan klub sepakbolanya daripada pelajarannya karena memang dia tidak cocok dengan kurikulum yg padat materi.
2.haruskah saya mencari sekolah dengan kurikulum yg tepat sesuai dengan kondisi anak yg cenderung kinestetik? Ataukah cukup seperti sekarang ini dia tetap sekolah di sekolah pada umumnya,namun saya barengi dengan klub sepakbola sesuai dengan minatnya.mengingat dia(anak) yg kurang minat terhadap pelajaran.
Jawaban:
dear teh Yola, saya belum pengalaman anak usia sekolah teh. 🙏🏻 khawatir tidak memberi solusi, saya skip dulu ya dan mencari referensi bacaan. ✅ 📝
Pertanyaan 15. Teh Fathiah
Bagaimana menurut teteh tentang menangis sebagai cara meluapkan emosi? Jujur untuk periode tertentu saya membutuhkannya, kadang ga bisa ketahan, walaupun sdah berusaha untuk tidak menangis sambil bilang sama diri sndiri “udah jangan nangis, ga ada gunanya”, tapi kalau belum terluapkan rasanya aktifitas dn komunikasi terganggu. Kadang menangis ini berawal dr rasa kecewa baik pada diri sndiri maupun.suami, atau krn merasa sendiri, kadang juga karena kelelahan ingin curhat tapi suami sibuk dan saya bingung harus mulai drmana,
Apa solusi menurut pengalaman teteh pribadi Untuk mengatasi perasaan 2 negatif tersebut?
Adakah alternatif lain yg lebih efektif dan solutif dalam mengalirkan emosi selain menangis?
Jawaban:
dear teh fathiah… wow teteh mengingatkan saya tentang nhw saya. Bagi saya menangis adalah efektif ketimbang marah. Anak saya 5y suka ingetin “janganlah marah bunda, maka bagimu surga” adem ya dengarnya?
Bagi tipikal orang ekstrovet, atau terbuka, akan sangat mudah menyampaikan emosinya. Kata orang ceplas ceplos. Berarti saya nebak mungkin teteh tipikal orang tertutup, tidak mudah mengungkapkan. Jadi saya pribadi, pengalamannya gini :
1. Anak tantrum, marah, dll, terima.
2. Komunikasikan.
3. Masih lanjut.
4. Diamkan.
5. Masih lanjut.
6. Pergi.
7. Dikejar
8. Menangis.
Cobain, menurut saya efektif. lain halnya kalau saya marah, ga efektif teh, yang ada dosa nambah, anak niru, terus anak jadi muka takut.
Dua hal ini saya masih jatuh bangun juga teh, tapi dicoba aja.
Setelah keluar dengan menangis, silahkan tarik nafas buang nafas. lalu peluk anak, komunikasikan dengan anak.
Kecewa dengan diri sendiri, apa yang bisa teteh lakukan?
1. Terima
2. Catat apa kesalahan
3. Menyesali dengan menangis, keluarkan
4. Setelah tenang coba berwudhu, shalat.
5. Curhatlah kepada Allah.
Marah pada pasangan? Saya sendiri suka sering diam, terus inginnya dimengerti. Ternyata itu tidak efektif loh. Malah nambah masalah baru.
Jadi saya coba :
1. Coba bilang
2. Tidak bisa bilang, diam sejenak tinggalkan pasangan
3. Setelah itu teteh bisa catat
4. Silahkan menangis
5. Setelah tenang kasih ke suami
6. Mau menangis lagi silahkan
7. Dengarkan penjelasan suami
8. Terima
9. Maafkan
Jangan lupa peluk suami ☺
Dicoba ya teh✅
Pertanyaan 16. Teh Rani A. Puspi
MasyaAllah.luar biasa ilmu2 nya😍 #jleeebbgtttt 😥 makin semangat bebenah diri💪💪 Ada pertanyaan nih teh setelah mendalami utube nya..
1. Dulu sy suami tdk byk melihat masa lalu,khususnya ttg pola pendidikan ortu pd diri kami msg2 (ilmu nya kurang banyak nih sblm kd ortu hehe).Bgmn ya teh berdamai masa lalu dg kondisi kami yg “telat menyadari hal ini”?Prakteknya susah..jd secara tdk sengaja muncul lah ke anak..kl k ortu berusaha memaklum.krn byk nya jasa mrk..
2. Mendidik anak dg fitrah yg diberikan Allah. Dan bkn mendidiknya spt yg qt mau..
Fitrah2 apa saja ya yg perlu dijaga sampai dia dewasa nanti?krn lingkungan jaman skrg yg qt tau banyak sekali tantangannya..
jazakillah..
Jawaban:
dear teh rani, memang prakteknya susah berdamai dengan masa lalu. tetapi harus dicoba, hanya dengan menerima, memaafkan, dan menjadikan sebagai pembelajaran
b. bisa cari lebih lengkap di pendidikan berbasis fitrah oleh ust.harry.
– fitrah iman
– fitrah belajar
– fitrah cinta
– fitrah fisik
– fitrah bahasa
– fitrah perkembangan
– fitrah bakat
– fitrah individu & sosialitas✅
Pertanyaan 17. Teh Nenih
Ketika saya dan suami sudh menemukan misi spesipik keluarga, bagai mana saya mengajak anak untuk bisa d ajak kerja sama sedangkan sya masih tinggal denga keluarga sya yg kebanyakan tidak sepaham dengan saya.
Jawaban:
dear teh Nenih, saya kebetulan tidak punya pengalaman. Tetapi saya ingat cerita Ibu, waktu beliau tinggal bersama keluarga. Jadi bikin space. Ini wilayah kekuasaan kita misal kamar, jadi prinsipnya apapun yang berlaku diluar, di kamar aturan kita yang berlaku. Semoga saya ga salah memahami cerita ibu 😬
Sama sih intinya, yang penting kuatkan pondasi keluarga kita. saya pun tidak tinggal serumah, tetapi kalau dibawa ke rumah keluarga prinsipnya bertabrakan semua, tetapi anak anak tidak serta merta ngikutin, kepengaruh mah iya, namanya anak-anak, tapi kita tak boleh pernah lelah. tetapi anak anak itu kritis hanya ingin tau kenapa loh.
Saya kasih contoh simple ya semoga bermanfaat.
Di keluarga kami, jarang beli mainan, harus nabung dulu, atau bikin aja mainan. Lalu dia terkaget2 dengan sepupunya yang tiap minggu dibelikan mainan. Dia cuma tanya kenapa, tapi karena kita terus2an kasih informasi positif, alhamdulillah tidak terpengaruh, merajuk… kritis sering, tetapi alhamdulillah sampai saat ini aman aman saja 😄
Referensi jawaban Ibu untuk bunda produktif :
Bunda, saya dulu juga mendapatkan pesan yg sama ketika masih gadis
Ibu saya single parent sejak saya usia 8 th.
Sehingga ibu selalu berpesan “harus jadi perempuan mandiri, berpenghasilan, tidak bergantung pada suami”
Mindset terbangun, tetapi di satu sisi saya selalu terngiang-ngiang masa kecil saya, sedih banget ketika pulang sekolah, ingin banget curhat dg ibu, tapi harus nunggu malam, karena ibu baru pulang kerja dan kuliah malam hari.
Akhirnya hal itulah yg memicu saya bahwa saya harus mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak-anak saya.
Maka sebisa mungkin sebelum anak-anak memasuki usia 12 th. Ajaklah selalu bersama ibu atau ayahnya. Libatkan mereka, sehingga kebutuhan kasih sayang terhadap kehadiran diri kita terpenuhi.
Apalagi kalau kita buka usaha sendiri, pasti kita bisa mengaturnya.
Kalau harus bekerja dengan org lain, maka didiklah asisten rumah tangga yg bisa mendampingi anak dengan baik, dengan segala konsekuensi yg akan bunda terima✅
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
referensi jawaban ibu pertanyaan dengan berdamai masa lalu :
datanglah ke orangtua anda apabila masih ada, peluk beliau berdua, sebagai visualisasi bahwa kita benar-benar sdh menerima segala kondisi masa lalu.
Seringlah berbuat baik untuk mereka, untuk mengganti rasa sakit/dendam masa lalu yg pernah ada.
Kemudian hindari masa-masa dimana kita dalam posisi marah yg memuncak ke anak.
Karena kalau kita belum selesai dg masa lalu, dalam kondisi tertekan, pasti kita akan melakukan perbuatan yg pernah dilakukan orangtua kita ke kita jaman kecil dulu, meskipun diri kita sendiri sangat tidak menyukainya.
Maka ujilah, kalau dalam kondisi tertekan kita bisa mengendalikan diri kita, insya Allah masa lalu sudah bisa kita terima dengan baik.
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
referensi jawaban ibu ttg yang masih tinggal bersama mertua/orangtua :
kunci utama ketika kita masih jadi satu dengan orangtua adalah komunikasi
Libatkan orangtua/mertua menjadi satu team dg kita, berikan mereka peran khusus yg bisa dikerjakan.
Kemudian bicarakan dengan suami, bahwa ring 1 yg harus kita bangun adalah keluarga inti plus ortu kita.
Makin kreatif dg solusi, mbak akan makin menemukan peran peradaban mbak di muka bumi ini
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘